Rabu, 16 Mei 2012

Menuju Ke Arah Pengembangan Pendidikan Alternatif (Bagian Kedelapan) Oleh: Ahmad Faizuddin, M.Ed

Filosofi dan Prinsip Dasar Pendidikan Alternatif 
Filosofi dan prinsip dasar yang bagus sangatlah diperlukan dalam pendidikan. Winarno Surakhmad dalam Falsafah Pendidikan: Yang Diperlukan, Yang Terbuang mengkritik mereka yang berpandangan bahwa filosofi pendidikan tidak diperlukan lagi. Sebagian orang berpendapat bahwa kebanyakan masalah pendidikan ada pada aspek teknisnya. Sementara yang lain berpegang bahwa p e n d i d i k a n h a r u s l a h p ra k t i s d a n berorientasi masa depan. Kebanyakan orang melihat pendidikan sebagai sebuah persiapan untuk lapangan kerja dan industri sehingga pendidikan itu harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan tersebut. Dalam kenyataannya, pendidikan tidak lah dapat dikembangkan tanpa adanya filosofi (Ronisef et al., 2003). Oleh karena itu, paradigma pendidikan di Indonesia khususnya sebagaimana didesain oleh Kementerian Pendidikan Nasional berbentuk: (1) “Pemberdayaan manusia seutuhnya, (2) Pembelajaran sepanjang hayat berpusat pada peserta didik, (3) Pendidikan untuk semua, dan (4) Pendidikan untuk perkembangan, pengembangan, dan/atau pembangunan berkelanjutan (PuP3B). 

Pada akhirnya, sebagaimana CuĂ©llar-Marchelli (2003) indikasikan, “tidak akan pernah ada ke b i j a k a n ya n g s e m p u r n a u n t u k m e m e c a h k a n s e m u a k e l e m a h a n - kelemahan dalam system pendidikan; namun ahli pendidikan dan penentu kebijakan harus selalu berupaya untuk mengkaji ulang praktek-praktek pendidikan yang ada serta memperbaikinya” (p. 164). Kita selalu bisa belajar dari masa lalu (Alexander, 2010) dan dari beragam model pendidikan (Gordon & Gordon, 1990) dengan mengikuti agenda demokratis atau kesamaan umum (Clausen, 2010). Ottawa Alternative Schools, sebagai contoh, mempunyai filosofi sebagai berikut: “Kerjasama dan kerja tim; Sebuah komitmen menuju pendekatan yang inovatif; Sebuah keseimbangan antara pembelajaran siswa aktif dan guru aktif; Kelompok belajar yang bervariasi umurnya; Sebuah kurikulum terpadu; Sebuah lingkungan sekolah berorientasi keluarga; serta pendataan dan evaluasi yang berkesinambungan (LeGrand, 2011, h. 101-102). 

Kunci utama dari pembelajaran adalah untuk mendukung pertumbuhan belajar anak (DeBlois & Place, 2007; Foley & Pang, 2005) dengan cara menjaga agar mereka senantiasa terlibat aktif (Peled & S m i t h , 2 0 1 0 ) , d a n d e n g a n c a ra memberikan mereka kesempatan kedua (McKee & Conner, 2007) karena mereka mempunyai banyak tantangan atau kendala seperti, “stress akibat rumah dan keluarga, kemiskinan dan kelaparan, kesehatan mental, penggunaan obat terlarang, kekerasan seksual, kehamilan diluar nikah dan kurangnya bimbingan orang tua” (Peled & Smith, 2010, h. 59). Lebih lanjut, penekanan nilai pada pendidikan alternatif agak berbeda dari pendidikan biasa (Manthey, 2006). Biasanya nilai ini ditekankan pada empat aspek, yaitu: 1) berjiwa kemasyarakatan, 2) menghormati keingintahuan anak, 3) melibatkan pembelajaran atau sosial dasar ( H o y & M i s k e l , 2 0 0 8 ) , d a n 4 ) k e p e m i m p i n a n . P e r t a m a , d a l a m menumbuhkan jiwa kemasyarakatan, sebuah sekolah yang efektif, paling kurang mempunyai komite sekolah dan persatuan para orang tua/wali (Suparlan, 2008). Pendidikan, pada kenyataannya, adalah “telah terstruktur seputar prinsip 'pasar' dan kemajuannya” dalam sebuah masyarakat (De Coster et al., 2009, h. 652). Kedua, Holt (1970) menyatakan bahwa “sekolah kebanyakan menghancurkan rasa keingintahuan anak, rasa percaya diri, kepercayaan, dan juga kepintaran mereka” (h. 53). K e t i g a , d a l a m m e l i b a t k a n pembelajaran anak, Braskamp, Trautvetter, and Ward (2006) menyimpulkan tiga karakteristik dalam pengembangan anak secara menyeluruh: “mission is reality, not rhetoric (pemberian tugas adalah berdasarkan kenyataan, bukan retoris), learning and development are integrated (pembelajaran dan pengembangan adalah satu), dan the campus community fosters support and challenge (komunitas sekolah menanamkan dukungan dan tantangan)” (h. 193). Keempat, di era penjajahan, Ki Hajar Dewantara dengan Sekolah Taman Siswa-nya, dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, telah berjuang untuk menghilangkan jurang pemisah antara m a s ya ra k a t d a n p e l a j a r d e n g a n menerapkan tiga metode kepemimpinan, yaitu: “Ingarsa Sung Tulada” (mampu memberi teladan), “Ingmadya Mangun Karsa” (mampu memberi motivasi), dan “Tut Wuri Handayani” (mampu memberi dorongan) (Wahyudi, 2007, h. 34). 

Pada akhirnya, Groves (2008) menyarankan 7 kunci utama untuk keberhasilan membangun sebuah sekolah, yaitu: “set the controls for the heart of the sun, grow trust like there is a tomorrow, leadership is all – and for all, strictly go dancing, get real about learning, be a place to be, and get people using the escalators not the staircase” (h. 177-182). Jadi sebenarnya apa yang harus diperhatikan tentang system pendidikan? Martin Chilcott, seorang CEO Place Group, mengutip tentang system pendidikan: Why do I get taught at the speed of other pupils (Mengapa saya harus diajar dengan kemampuan belajar siswa lain)? Why do I take exams in the summer (mengapa saya harus mengikuti ujian di musim panas)? Why am I forced to fail exams this year when I could pass them next (mengapa saya dipaksa gagal ujian tahun ini ketika saya merasa bisa berhasil tahun depan)? Why do I learn a foreign language alongside others who can't speak it (mengapa saya belajar bahasa asing dengan orang-orang yang tidak menguasai bahasa tersebut)? Why do I have to watch a teacher struggle to use yesterday's technology (mengapa saya harus melihat guru berjuang menggunakan teknologi yang sudah usang)? Why do I have to memorize stuff I can look up on my mobile phone (mengapa saya harus menghafal hal yang bisa saya dapatkan di telepon genggam)? Why is there only one time table where there are millions of individually customized Yahoos! (mengapa hanya ada satu model waktu saja sementara jutaan model Yahoo! personal)? Why are there so few subjects when I have hundreds of TV channels (mengapa hanya ada sedikit pelajaran sementara saya punya ratusan siaran TV)? Why am I taught separate subjects when life is integrated (mengapa saya diajarkan pelajaran secara terpisahpisah padahal hidup adalah sebuah kesatuan)? Why do I have to write at school when everyone types in life (mengapa saya harus menulis di sekolah padahal setiap orang mengetik dalam kehidupan seharihari)? Why do I have to accept a bad teacher when I never accept a bad burger (mengapa saya harus menerima seorang guru yang tidak baik padahal saya tidak pernah menerima burger/makanan yang tidak baik)? Why is school analogue and grey when life is digital and Technicolor (mengapa sekolah itu analog dan abu-abu padahal hidup itu digital dan banyak warna)? (Sebagaimana dikutip oleh Groves, 2008, h. 13) Sinyeu (April 22, 2012/10:15 a.m.)

special report of Lamuri Art Festival 2012

Hari Minggu, 1 April 2012, Yayasan Intisayaar Al-Ilmi Indrapuri (IAI) menggelar Lamuri Art Festival 2012 dalam rangka peresmian kantor baru Buletin Lamuri dan Sydney.com yang berada dibawah naungannya. Awalnya panitia sempat khawatir karena para undangan datangnya agak terlambat, tapi akhirnya deretan kursi yang sudah disediakan penuh. Tampak hadir Bapak Camat Indrapuri, Kapolsek, Danramil, Imam masjid dan tokoh masyarakat Indrapuri, dan para peserta aneka lomba. Ditambah dua orang seniman Aceh yang sudah tak asing lagi bagi kita, yaitu Cek Medya Hus dan Syeh Min yang turut mengisi acara dengan beberapa bait syair (Ca’e). D a l a m s a m b u t a n n y a C a m a t Indrapuri Bapak Drs. Ridwan Hasan menyatakan sangat mendukung keberadaan Buletin Lamuri, dan tanggapan masyarakatpun sangat antusias terhadap buletin yang bermotto “Berbagi Untuk Mencerahkan” itu. Ketua Yayasan IAI yang sekaligus sebagai penasehat Buletin Lamuri Ahmad Faizuddin, M.Ed berharap Beletin Lamuri yang bergerak dibidang Media Dakwah maupun Sydney.com yang mengelola kursus dan aneka bisnis akan terus berkembang hingga mendunia. “Kami berharap dari kantor yang kecil ini, dari segala keterbatasan, tapi mampu menghasilkan banyak hal yang berguna” ungkapnya penuh semangat. Acara yang berlangsung semarak itu terasa lebih khidmat dengan adanya santunan kepada anak yatim dari program Lamuri Peduli dan di akhir acara diumumkan para finalis untuk lomba Puisi, Syair Aceh (Ca’e), dan Fotografi. (Ad) 






Keterangan Foto: 
1. Medya Hus dan Syeh Min sedang membawakan Ca’e (syair Aceh). 
2. Camat Indrapuri (kiri), Kapolsek Indrapuri (tengah), & Danramil Indrapuri (kanan) saat menikmati Ca’e. 
3. Camat Indrapuri memotong pita peresmian kantor baru Buletin Lamuri dan Sydney.com. 
4. Imam masjid Abu Indrapuri A. Latif Hasyim menyerahkan bantuan Lamuri Peduli kepada anak yatim. 
5. Penyerahan piala & sertifikat pemenang lomba oleh Ketua Yayasan IAI Ahmad Faizuddin, M.Ed (kiri). 
6. Foto bersama Staf Buletin Lamuri.



RINCIAN KAS PROGRAM LAMURI PEDULI
NO URUT PENYUMBANG JUMLAH
Saldo Sampai Tanggal 21 Maret 2012Rp            613,125
Rp                      -  
Rp                      -  
JUMLAH TOTAL  Rp            613,125
DISALURKAN  Rp            240,000
SISA SALDO Pada 25 April 2012 Rp            373,125

APA KATA MEREKA ?
“Buletin Lamuri ini suatu ide yang
bagus yang dibuat, karena saya sudah
lihat sendiri isinya banyak mengandung
dakwah dan tulisannya bisa
memberikan pecerahan untuk generasi
muda agar lebih suka dan mau menulis.
Selamat untuk lamuri !”
(Drs. Ridhwan Hasan - Camat Indrapuri )

“Sangat bagus, ide yang cemerlang
Lamuri mau mengadakan lomba puisi
dan ca'e aceh yang bersifat seni budaya
tradisi yang kini sangat jarang
diadakan apalagi untuk anak-anak
sekolah yang merupakan generasi penerus.
Kita patut mendukungnya untuk lamuri !”
( Medya Hus-Seniman )

Jumat, 27 April 2012

Menuju Ke Arah Pengembangan Pendidikan Alternatif (Bagian Ketujuh) Oleh: Ahmad Faizuddin, M.Ed

Karakteristik Pendidikan Alternatif (3) Berbicara tentang sekolah ideal dan sekolah sebenarnya di lapangan, Mangunwijaya membuat perbandingan antara keduanya. Menurutnya, di sekolah ideal: “Guru adalah bapak, ibu, abang, kakak, sahabat; Murid adalah anak, Dialog, pemahaman, Cara Belajar Siswa Aktif, bersuasana keluarga; Solidaritas antara para murid, antara yang cerdas dan yang lambat; dan Yang diabdi: nomor satu kepentingan dan pemekaran pribadi si anak.” Sementara dalam realitanya, di sekolah: “Guru adalah komandan, birokrat, instruktor, pawang; Murid adalah kader politik kecil, calon Sumber Daya Manusia; Hafalan, penataran, indoktrinasi; Persaingan untuk mencari kejuaraan; dan nomor satu kepentingan industri, bisnis, pemerintah, gengsi orang tua, kepentingan masyarakat saja tanpa menghargai kebutuhan anak” (Sebagaimana dikutip oleh Pradipto, 2007, pp. 61-62). 

K a r a k t e r i s t i k y a n g t e l a h disebutkan diatas dan dua tulisan sebelumnya merupakan penentu apakah sebuah sekolah bisa dikatakan kaya atau pun miskin. Wahyono (2010) membuat delapan syarat supaya sebuah sekolah bisa dikatakan kaya, yaitu: “Sumber daya manusia yang mumpuni; Sumber daya keuangan yang cukup; Fasilitas belajar dan peralatan praktik memadai; Strategi yang jitu; Teknik marketing yang baik; Sistem pendokumentasian yang bagus; Sistem informasi dan komunikasi yang efektif; dan Mau berbagi kesuksesan” (h. 3). Sebaliknya, menurut Wahyuno, sebuah sekolah dikatakan miskin apabila mempunyai delapan ciri, yaitu: “Sumber daya manusia yang tidak kompeten dan berkinerja buruk; Tidak memiliki cukup dana untuk membayar gaji guru dan biaya operasional; Tidak memiliki gedung dan jaminan tempat belajar; Tidak punya strategi; Proses pembelajaran dan palayanan yang buruk; Tidak memiliki catatan kemajuan dan prestasi; Informasi dan komunikasi tidak mendukung kinerja; dan Tidak mau belajar dan berinovasi” (h. 12). 

Lebih lanjut, karakteristik sekolah sebenarnya ditentukan oleh karakteristik masyarakat setempat. Freire (1994) menggambarkan karakter pendidikan berikut ini sebagai potret dari masyarakat yang tertindas atau terabaikan: “Guru mengajar dan murid diajar; guru tahu semua hal dan murid tidak tahu apa-apa; guru berpikir dan murid memikirkannya; guru berbicara dan murid mendengarkan dengan tenang; guru disiplin dan murid didisiplinkan; guru menetapkan pilihannya dan murid menjalankannya; guru bertindak dan murid meraba-raba berdasarkan tindakan guru; guru memilih materi pelajaran dan murid menerimanya; guru membuat buram ilmu pengetahuan dengan kekuasaannya dalam hal membatasi kebebasan murid; guru adalah subjek utama dalam pembelajaran dan murid hanya sekedar objek” (h. 54). Kalau dibandingkan di Indonesia, menurut Yulaelawati (2009) sebenarnya pendidikan sekolah dan luar sekolah itu berjalan seiring, saling mendukung satu sama lain.

Kisah Taubat Seorang Wanita

                    Alkisah ada seorang wanita Atuna susila yang sangat cantik dan hanya mau melayani tamu jika dibayar seratus dinar. Seorang lelaki yang terpikat dengannya bekerja keras dan mengumpulkan uang sebanyak seratus dinar. Kemudian lelaki itu mendatanginya dan berkata, "Aku sangat tertarik denganmu, hingga aku rela bekerja keras sampai berhasil mengumpulkan seratus dinar." "Masuklah," kata wanita itu Setelah masuk ke dalam dan mulai untuk melakukan perbuatan keji, tiba-tiba lakilaki itu teringat Allah dan merasa sangat ketakutan. Ia berkata kepada wanita itu, "Biarkan aku keluar dan ambil saja seratus dinar ini untukmu." “Apa yang terjadi denganmu? Bukankah engkau yang mengatakan bahwa ketika melihatku, engkau sangat tertarik hingga rela bekerja keras sampai dapat mengumpulkan seratus dinar, namun setelah mendapatkanku, engkau tiba-tiba malahmenolak!” “Aku takut kepada Allah dan sangat mengawatirkan keadaanku ketika kelak di Hari Kiamat berada di hadapan-Nya. Sekarang aku membencimu dan engkau adalah wanita yang paling kubenci," tegas laki-laki itu. “Jika apa yang kau ucapkan benar, maka hanya dirimulah yang layak menjadi suamiku." Lelaki itu berkata, "Biarkan aku pergi." "Tidak, kecuali jika engkau menjadikanku sebagai isterimu." "Aku tidak mau. Biarkan aku keluar." " B a i k l a h , a k u p a s t i a k a n m e n d a t a n g i m u a g a r e n g k a u mempersuntingku," kata wanita itu . "Bisa saja," jawab laki-laki itu yang kemudian memakai bajunya dan keluar dari daerah itu. 

                  Wanita tuna susila itu pun meninggalkan daerahnya dan sangat menyesali perbuatan yang telah dilakukannya di tempat itu. Ketika sampai ke kampung lelaki itu, dia menanyakan nama dan rumahnya. Setelah diberitahukan, ternyata lelaki itu sudah meninggal dunia. Akhirnya wanita tersebut benar-benar bertaubat menyesali perbuatannya dan hidup menyendiri menjadi wanita yang taat beribadah. Dari kisah ini, kita bisa mengambil hikmah yang sangat berharga. Antara lain: 1) Sebesar apa pun dosa seseorang, dia bisa mendapatkan hidayah dan bertobat ke jalan yang benar. 2) Terkadang seseorang berpikir untuk melakukan dosa. Akan tetapi jika dia masih ingat kepada Allah, Allah pun a k a n m e n g i n g a t n y a d a n menolongnya dari perbuatan keji yang akan dilakukan 3) Selain sadar sebelum melakukan perbuatan keji, laki-laki itu juga mendapatkan pahala dengan menjadi sebab taubatnya wanita itu. Sehingga saat meninggal, Insya Allah, dia mendapatkan husnul khatimah. 4) Seseorang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh dan menyesali perbuatannya, akan diampuni dosadosanya dan dilapangkan jalan menuju ketaataan. Semoga kita semua tergolong At- Taibin (orang-orang yang bertaubat) dan senantiasa mendapatkan pertolongan Allah dalam setiap keadaan. Amin ya Robbal Alamin. (Afdhal Mahdi)

Pendidikan Rokok Untuk Aceh

Merokok sudah menjadikebiasaan khususnya di Aceh. Hampir setiap orang laki-laki di Aceh mengisap benda silinder berukuran panjang 70-120 mm dengan diameter 10 mm yang terbuat dari kertas campur tembakau cacah ini. Setiap hari berbatang-batang rokok di bakar salah satu ujungnya dan dihirup asapnya lewat ujung satunya lagi. Oleh karena itu, Penulis ingin m e n g a j a k p e m b a c a u n t u k menginstrospeksi diri akan kebiasaan ini. Kalau ditanya apakah alasan utama seseorang merokok, maka jawabannya pasti beragam. Ada dua jawaban umum paling ngawur kalau kita bertanya kepada ahli hisap (baca: perokok). Pertama, merokok keu mangat babah (Aceh: supaya sedap mulut). Umum sekali kita lihat bagi kaum laki-laki khususnya, setelah makan baik pagi, siang ataupun malam, harus ada menu penutup (desert) berupa sebatang rokok. Kalau tidak, maka orang tersebut seolah - olah merasa mulutnya masam d a n t i d a k e n a k . 

Kedua, sebagai bentuk protes. Mungkin ini jawaban paling asal. Perokok itu tahu bahwa konsekuensi merokok tidak baik, namun dia berpegang pada prinsip lebih baik membakar rokok daripada membakar pabrik pembuat rokok. Terlepas dari alasan apapun mengapa seseorang merokok, saya rasa semua orang sependapat bahwa merokok tidak bagus untuk kesehatan. Bahkan di bungkusan rokok sendiri di tuliskan pesan peringatan dengan huruf kapital, “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.” Namun sayang sekali itu hanya menjadi hiasan. Tidak ada orang yang mematuhinya. Sebenarnya banyak organisasi dan Negara di dunia sudah menetapkan status hukum rokok. Muhammadiyah, misalnya, telah mengeluarkan fatwa haramnya rokok melalui Majlis Tarjih dan Tajdid pada 7 Maret 2010 di Yogyakarta. Dengan ini mereka memperbaharui ketetapan sebelumnya pada tahun 2005 bahwa merokok itu mubah. Ulama Arab Saudi dan Mesir juga mengharamkan rokok yang kemudian di Indonesia di iikuti oleh MUI. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) juga “mengharamkan” rokok dengan alasan utama kesehatan bahkan penyebab utama tingginya angka kematian. 

Akhirnya, apakah warga Aceh siap untuk berhenti merokok? Sesuatu yang baik harus segera kita mulai dan usaha menuju ke arah kebaikan harus tetap kita tempuh. Kalau perlu kita buat kurikulum khusus untuk pendidikan rokok meskipun usaha ini akan memakan waktu yang lama karena sudah berurat berakar (baca: membudaya) dalam kehidupan sehari-hari. Semoga generasi Aceh ke depan adalah generasi yang bebas dari asap rokok. Wa l l a a h u a ' l a m b i s h s h a w a a b . (Ahmad Fizuddin, M.Ed)

Kenali TB Sejak Dini

Assalamualiakum warga Aceh Besar … Nah mungkin semua bertanyatanya apa itu TB ?, langsung aja ya ! TB adalah sebutan lain dari penyakit TBC. Di Aceh, selain Malaria, TB menjadi sebuah penyakit yang berkembang luas di masyarakat. Ketidaktahuan masyarakat terhadap apa itu penyakit TB membuat penyakit ini semakin menyebar luas di masyarakat. Untuk itu para Penyuluh TB di A c e h B e s a r b e r u s a h a u n t u k memberikan informasi melalui penyuluhan terhadap masayarakat m e n g e n a i p e n y a k i t T B , c a r a penularan, dan penanggulangannya. Alhamdulillah di seluruh kecamatan dalam Kabupaten Aceh Besar telah terbentuk kader-kader TB care yang bertujuan untuk melayani masyarakat dalam menanggulangi p e n y a k i t T B i n i . 

Seringkali kita mendengar bahwa penyakit TB ini sudah tidak ada lagi didalam masyarakat, padahalal jika kita melihat gejala, banyak masyarakat yang mengidap kuman TB ini, s e h i n g g a k e t i d a k p a h a m a n masyarakat membuat kuman TB ini menyebar luas kepada orang lain TB hanya menular melalui saluran pernafasan ( hidung ) apabila Penderita TB Batuk dan percikan bakteri Mikobacterium Tuberkulosa ( baca : Kuman TB ) masuk ke saluran pernafasan ( hidung ) orang lain. Sehingga kuman tersebut bertahan di dalam paru-paru, dan ketika dayan tahan tubuh berkurang, maka kuman tersebut akan berkembang di dalam paru-paru. TB tidak ditularkan melalui bersentuhan, berpelukan, makan bersama, serta berbicara dengan penderita TB. Jadi, JANGAN TAKUT UNTUK BERSAHABAT DENGAN PENDERITA TB.... Ciri-Ciri Penyakit TB : A. Gejala Utama : Batuk Berdahak selama 2 Minggu hingga sebulan B. Gejala Tambahan : Batuk Berdahak disertai darah , Dada terasa sakit, Nafsu makan menurun, Berat b a d a n m e n u r u n , D e m a m berkepanjangan, dan berkeringat di malam hari walau tanpa aktivitas. 

Nah, dengan mengetahui gejalagejala diatas, maka jangan malu untuk berobat ke UPK ( Unit Pelayanan Kesehatan ) terdekat, segera hubungi kader-kader TB yang telah terbentuk untuk mendapatkan pelayanan yang baik tanpa dipungut biaya sepeserpun, dan tunggu kami di gampongg a m p o n g s y e d a r a u n t u k mensosialisasikan penyakit TB ini. ( Baihaqi : TB Care )

Selasa, 21 Februari 2012

Menuju Ke Arah Pengembangan Pendidikan Alternatif (Bagian Keenam) Oleh: Ahmad Faizuddin, M.Ed

Karakteristik Pendidikan Alternatif (2) Dalam tulisan sebelumnya Penulis telah memaparkan sedikit tentang karakteristik pendidikan alternatif. Karakteristik tersebut mempunyai kaitan yang erat dengan kualitas pendidikan. Schussler & Collins (2006) setuju bahwa “perhatian” merupakan kualitas paling penting di sekolah. Lebih lanjut, “(kuantitas) kecil, kebebasan, dan pilihan” biasanya adalah tiga kualitas umum yang harus ada dalam kesuksesan sebuah usaha reformasi sekolah (h. 291). Namun demikian, meski setiap pendidikan alternatif di desain menurut kebutuhan masyarakat, kebanyakan alternatif ini mempunyai karakteristik yang sama sebagaimana Conley (2002) jelaskan, yaitu: 1.Sekolah alternatif memberikan sebuah pilihan kepada pelajar, orang tua, dan guru – yaitu pilihan yang terbuka untuk semua masyarakat sehingga punya rasa sukarela. Sejalan dengan itu, jumlah populasi dari sekolah ini haruslah mewakili sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat. 2.Sekolah alternatif mempunyai sebuah komitmen lebih bertanggungjawab untuk kebutuhan pendidikan khusus dalam masyarakat dibandingkan sekolah biasa. 3.Sekolah alternatif biasanya mempunyai tujuan dan arah yang lebih luas daripada sekolah biasa. Contohnya, disamping tambahan mengembangkan kemampuan dasar dan mempersiapkan pelajar untuk perguruan tinggi atau kejuruan, sekolah alternatif juga berupaya untuk meningkatkan konsep diri pelajar, mengembangkan bakat dan kelebihan pelajar, pemahaman dan motivasi k e r a g a m a n b u d a y a , s e r t a mempersiapkan pelajaran untuk menjalani berbagai peran dalam masyarakat. 4.Sekolah alternatif lebih fleksibel dibandingkan sekolah biasa, oleh karena i t u b e r t a n g g u n g j a w a b u n t u k merencanakan perubahan. Karena dikembangkan di era akuntabilitas (the age of accountability), kurikulum dirancang dan dimodifikasi berdasarkan umpan balik (feedback) dan evaluasi formatif (formative evaluation). 5.Sekolah alternatif biasanya lebih kecil dari sekolah umum. Rata-rata pendaftaran di sekolah alternatif publik menengah atas adalah dibawah angka 200. Karena sekolah ini kecil, maka aturan dan tekanan birokrasi terhadap pelajar dan pengajar dapat diminimalisir. (h.2) Berdasarkan karakteristik yang telah disebutkan di atas, apa sebenarnya perbedaan pendidikan biasa dan pendidikan alternatif? Fantini (1976) membuat daftar perbedaan gaya mengajar pendidikan formal dan informal sebagai berikut: Dalam pendidikan biasa, lingkungan dan interaksi manusia bersifat formal, waktu dan aktivitas diaturoleh guru, guru juga mengatur kurikulum dan menyediakan sumber pembelajaran, gaya dan tatanan kelas mengikuti pola standard, berorientasi pada aktivitas keseluruhan kelas, pelajar dan pengunjung dipisahkan, guru lebih\ berkuasa dari pelajar, kurikulum dibuat sesuai dengan Rencana Ajar guru, lebih banyak memakai buku teks pelajaran, kontrol guru secara disiplin, membedakan antara bekerja dan bermain, belajar apa yang diajarkan guru, dikelompokkan dengan umur yang sama, guru yang menentukan siapa yang melakukan sesuatu dan kapan harus dilakukan, pendidikan anak adalah tanggungjawab guru, m e n e k a n k a n p e n g e m b a n g a n intelektualitas anak saja, dan evaluasi akhir untuk mengklasifikasi anak. Semantara dalam pendidikan terbuka lingkungan dan interaksi manusia bersifat informal, pelajar bebas mengatur kegiatannya, guru hanyamengatur proses belajar dan memberikan bimbingan serta memfasilitasi pembelajaran, gaya dan tatanan kelas mengikuti pola workshop pelajar, berorientasi pada aktivitas individu dan grup kecil, pelajar dan pengunjung disatukan, guru dan murid berinteraksi secara individu, kurikulum dibuat untuk m e m e n u h i d a y a t a r i k p e l a j a r , mementingkan bahan konkrit dalam belajar, guru hanya sebagai fasilitator, tidak membedakan antara bekerja dan bermain, belajar dengan mencari sendiri, dicampur dengan umur yang berbeda, guru dan pelajar menentukan gaya belajar dalam satu hari, pendidikan anak adalah tanggungjawab anak itu sendiri, menekankan pada afektif emosional serta kemampuan kognitif intelektual anak, dan evaluasi akhir untuk mendiagnosa (kebutuhan) anak (Fantini, 1976, h. 110- 111). (Bersambung pada edisi selanjutnya) 
Sinyeu (Feb 8, 2012/7:58 a.m.)